Tampilkan postingan dengan label http://www.central-java-tourism.com/desa-wisata/in/dieng.htm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label http://www.central-java-tourism.com/desa-wisata/in/dieng.htm. Tampilkan semua postingan

Fenomena "Si Gimbal" Dari Dieng


Pernahkan anda ke dataran Tinggi Dieng ? Jika pernah, pastinya yang ada di dalam benak kita adalah pesona pemandangan alam eksotik , kekayaan alam yang melimpah , serta hawa sejuk yang menyelimuti dataran tinggi tersebut. Iya benar, semua itu merupakan ciri dataran tinggi Dieng yang terletak di kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo ini. Selain memiliki pesona keindahan alam beserta kekayaan alam yang melimpah , ternyata dataran tinggi Dieng juga menyimpan fenomena yang sangat menarik dan unik. Fenomena seperti apakah yang terjadi di daerah yang mempunyai ketinggian 2903 meter dari permukaan laut itu?
Fenomena unik yang dimaksud adalah dengan adanya anak-anak di daerah Dieng yang berambut gimbal (gembel). Fenomena ini bisa dikatakan unik sebab hanya anak-anak di kawasan tersebut yang mengalaminya. Selain itu rambut gembel juga bukan karena keturunan karena rambut gembel bisa tumbuh pada siapa saja. Menurut penuturan masyarakat setempat biasanya ciri-ciri anak yang akan tumbuh rambut gembel disertai panas tinggi selama beberapa hari setelah itu beberapa helai rambutnya menjadi kusut dan menyatu. (menjadi gimbal ).
Fenomena rambut gimbal ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah titipan leluhur mereka yaitu Ki Kolodete. Konon Ki Kolodete yang menurut mitos adalah pendiri kota wonosobo bersumpah tidak akan mencukur rambutnya sampai desa yang dia bangun menjadi makmur. Sehingga sampai saat ini apabila ada anak kecil yang memiliki ciri rambut gimbal dikawasan tersebut dianggap sebagai keturunan dari Ki Kododele. Sehingga para orang tua yang memilik anak dengan ciri tersebut harus memperlakukan anaknya dengan baik dan menuruti segala apa yang dimainta oleh si anak agar terhindar dari kutuk atau petaka. Untuk menghindari dari segala kemungkinan buruk seperti penyakit atau mungkin bahkan kematian pada diri si anak gimbal, biasanya diadakan ruatan yang bertujuan untuk menolak bala. Ruatan ini dilakukan dengan cara mencukur rambut gimbal si anak tersebut. Ritual cukur rambut gembel bertujuan untuk mengembalikan rambut gembel kepada yang Maha Kuasa . Selain itu si anak yang dicukur rambutnya agar memperoleh keberkahan dan kesehatan.
Sampai saat ini fenomena rambut gimbal dari dataran tinggi Dieng masih menyisakan sebuah misteri, bahkan belum ada penelitian ilmiah dan medis yang dapat menguak misteri ini. Namun terlepas dari semua mitos tersebut, budaya ruatan cukur rambut gimbal dapat menambah daya tarik pariwisata selain keindahan alam yang menakjubkan di kawasan Dieng.
Sumber : http://www.central-java-tourism.com/desa-wisata/in/dieng.htm

Dieng


Dataran tinggi dieng yang terletak diprovinsi Jawa tengah terbagi menjadi dua yaitu sebagian masuk wilayah Banjarnegara dan sebagian lagi masuk wilayah Wonosobo, dengan rata-rata ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Suhu udaranya sangat dingin (sekitar 0 derajat celcius) terjadi sekitar bulan Juli - Agustus, sedangkan pada bulan-bulan yang lain berkisar 15 - 20 derajat celcius. Banyak orang yang susah mengeluarkan keringat jika berada di daerah ini, walaupun bekerja keras atau berolahraga.

Masyarakat Dieng umumnya petani, petani yang tidak memiliki lahan karena tanah di sana umumnya sudah dimiliki oleh pemilik modal, baik yang ada di Dieng sendiri maupun yang ada di luar Dieng. Tanah dieng tergolong subur dengan tanaman yang khas yaitu “kacang dieng” dan “purwaceng” yang oleh masyarakat di sana dianggap tanaman yang meningkatkan stamina laki-laki.

Hingga saat itu, tanah Dieng sudah dikuras dengan monopoli tanaman yaitu kentang. Hampir 90 % tanah di Dieng ditanami kentang. Kentang merupakan tanaman yang oleh masyarakat dieng dianggap yang sangat menjanjikan untuk mengangkat perekonomian mereka. Pola tumpang sari yang dapat mempertahankan keberagaman unsur hara tanah seakan telah dikesampingkan oleh masarakat dieng. Pikiran mereka selalu “kentang”, “kentang”, dan “kentang”.

Saat itu saya telah menemukan masalah lingkungan yang saya anggap sangat mengkhawatirkan, yaitu: hilangnya belalang, kupu-kupu, dan serangga lainnya kecuali jenis hewan pemakan kentang yang dicemaskan masyarakat di sana yaitu “engkuk“. Jenis hewan ini biasanya hidup di dalam tanah, tubuhnya berwarna putih lebih besar dibanding kepalanya yang berwarna kecoklatan. Frekuensi penyemprotan insektan tanaman kentang tinggi (minimal 2x dalam seminggu), membuat serangga yang lain ikut mati.

Karena bisnis tanaman kentang di Dieng sangat menguntungkan, membuat harga tanah di sana sangat tinggi dan banyak peminatnya. Hal ini membuat oknum-oknum pejabat di sana lupa lingkungan sehingga pohon-pohon yang berada di pegunungan dieng diubah menjadi ladang kentang. Dieng menjadi gundul dan dikhawatirkan akan terjadi longsor di saat musim hujan.
Sumber : http://www.central-java-tourism.com/desa-wisata/in/dieng.htm